http://dian33.wordpress.com/2009/04/23/jilbab-antara-trend-dan-syariat/
Akhir-akhir ini semaraknya penggunaan jilbab boleh
dikatakan simbol gerakan baru keagamaan di Indonesia, di mana kaum muda
di kalangan mahasiswa dan pelajar cenderung melakukan purifikasi dalam
sikap keberagaman mereka, termasuk dalam berbusana.
Kini jilbab telah menembus batas penggunaan jilbab secara ideologis, walau masih dalam kesadaran dan semangat “tampil” sebagai seorang muslimah. Jilbab kini telah merebak dipakai oleh para ibu-ibu anggota majelis taklim, para buruh wanita, para wanita eksekutif, bahkan para selebritis.
Kini jilbab telah menembus batas penggunaan jilbab secara ideologis, walau masih dalam kesadaran dan semangat “tampil” sebagai seorang muslimah. Jilbab kini telah merebak dipakai oleh para ibu-ibu anggota majelis taklim, para buruh wanita, para wanita eksekutif, bahkan para selebritis.
Paling tidak pada saat mereka mengikuti pengajian atau pada hari raya
dan hari-hari besar Islam, bahkan kala arisan keluarga, kecenderungan
mengenakan jilbab semakin meningkat.
Fenomena jilbab di Indonesia secara historis terjadi bersamaan dengan revolusi Islam Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini, berhasil menggusur seorang tiran yang terkenal dengan kekejaman Savak, polisi rahasianya, Syah Reza Pahlevi pada tahun 1979.
Fenomena jilbab di Indonesia secara historis terjadi bersamaan dengan revolusi Islam Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini, berhasil menggusur seorang tiran yang terkenal dengan kekejaman Savak, polisi rahasianya, Syah Reza Pahlevi pada tahun 1979.
Syah Iran itu populer sebagai antek dunia Barat di Timur Tengah, maka
Khomeini menjadi lambang kemenangan Islam terhadap boneka Barat.
Simbol-simbol kekuatan Khomeini, seperti foto Imam Khomeini dan
komunitas Black Veil menjadi trend di kalangan generasi muda Islam di
seluruh dunia. Semenjak itu jilbab mulai menghiasi kampus dunia Islam,
tidak terkecuali Indonesia.
Pakaian penutup kepala perempuan di Indonesia semula lebih umum
dikenal dengan kerudung, tetapi permulaan tahun 1980-an lebih populer
dengan jilbab. Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di
Indonesia. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal
dengan beberapa istilah, seperti chadar di Iran, Pardeh di India dan
Pakistan, abaya di Irak, hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti
Mesir, Sudan, dan Yaman. Berubah makna menjadi pakaian penutup aurat
perempuan semenjak abad ke-4 H.
Apapun bentuk dan penamaannya, sebagai identitas muslimah, kerudung
atau jilbab menghadapi sejumlah kendala, khususnya yang datang dari
pihak-pihak yang memiliki otoritas yang merasa terganggu dengan
munculnya fenomena jilbab. Bahkan di negara-negara Barat yang sangat
menjunjung tinggi HAM, dianggap bertentangan dengan prinsip sekularisme
yang mereka anut.
Ini misalnya terjadi di Perancis yang pada beberapa tahun lalu
Kementerian Dalam Negeri Perancis melarang siswi muslimah yang sekolah
di sekolah umum mengenakan jilbab. Alasannya, itu simbol keagamaan.
Sedang di Perancis yang sekuler, sekolah umum harus bersih dari
simbol-simbol keagamaan. Walaupun itu ternyata tidak berlaku bagi kopiah
kecil Yahudi yang nempel di kepala orang-orang Yahudi. Di Turki,
seorang perempuan anggota parlemen, Merve Kavakci dipersoalkan
keanggotaannya lantaran mengenakan jilbab.
Hal yang sama pelarangan jilbab atau kerudung juga pernah terjadi di
Indonesia baik di instansi pemerintah, swasta, sekolah-sekolah, maupun
perguruan tinggi. Seperti yang pernah dialami penulis pada tahun 2002
ijazahnya tidak ditandatangani oleh rektor karena fotonya berkerudung.
Padahal foto berkerudung tersebut adalah bentuk pelaksanaan syariat
Islam oleh seorang mahasiswi. Lucunya lagi, jika para pejabat di
almamater yang bersangkutan pun ternyata adalah seorang muslim yang
seharusnya juga melaksanakan syariat Islam.
Seiring dengan perjalanan zaman, ternyata penggunaan jilbab dan
kerudung mengalami perkembangan pesat. Kalau di tahun-tahun 1980-an
mahasiswi berjilbab hanyalah satu, dua, kini alhamdulillah, tampaknya
pada universitas negeri maupun swasta, mahasiswi berjilbab atau
berkerudung sama banyaknya bahkan mungkin lebih banyak daripada
mahasiswi yang tidak mengenakan jilbab. Siswi SMU banyak yang sudah
berkerudung, bahkan sampai SD. Bahkan guru-guru mereka berjilbab atau
berkerudung seperti yang terjadi di Bulukumba saat ini.
Pemakaian jilbab/kerudung semakin marak di berbagai kalangan, melintasi batas-batas kalangan pelajar dan mahasiswa yang menjadi perintis. Jilbab mulai menjadi trend perempuan muslimah. Kalangan eksekutif dan profesional, bahkan sampai para politikus perempuan, mulai mengenakan jilbab atau berkerudung.
Pemakaian jilbab/kerudung semakin marak di berbagai kalangan, melintasi batas-batas kalangan pelajar dan mahasiswa yang menjadi perintis. Jilbab mulai menjadi trend perempuan muslimah. Kalangan eksekutif dan profesional, bahkan sampai para politikus perempuan, mulai mengenakan jilbab atau berkerudung.
Terakhir pemakaian jilbab/kerudung merambah sampai di kalangan artis,
yang merupakan trend setter para remaja. Ketika artis marak berjilbab,
mempunyai dampak positif semakin banyak orang yang memakai
jilbab/kerudung karena artis telah menjadi publik figur dan idola
masyarakat.
Para politikus, mulai dari Aisyah Amini, Khofifah Indar Parawansa,
Marwah Daud Ibrahim, dan lain-lain menjadi contoh perempuan yang
berkerudung. Para artis mulai dari Ida Royani, mantan model Ratih
Sanggarwati, Marissa Haque, Inneke Koesherawaty, Titik Sandora, Neno
Warisman, Ida Leman menjadi contoh dari kalangan artis karena
konsistensinya menggunakan busana muslimah, membuat karier mereka
semakin meningkat.
Bersamaan dengan kegembiraan akan maraknya pemakaian busana muslimah
di berbagai kalangan itu, terjadi pula keprihatinan yang merupakan
dampak negatif karena menjadikan artis sebagai panutan. Dengan
keterbatasan pemahaman tentang hukum jilbab, maka yang berkembang di
masyarakat tidak sesuai dengan syariat yang terakumulasi menjadi
kerudung gaul.
Prinsip kerudung gaul yang terpenting adalah memakai kerudung,
terserah bentuk pakaian yang dipakai oleh perempuan. Bahkan yang lebih
parah adalah pakaian atas perempuan adalah kerudung sebatas leher atau
bahkan hanya menutupi rambut saja, sehingga anting, kalung dan poni
rambut kelihatan. Dan pakaian bawahnya adalah pakaian mode terkini yang
sedang in, sampai pusarnya kelihatan, tentu ini sangat memprihatinkan.
Dalam tata kehidupan yang serba sekuler, harapan akan kesesuaian
jilbab dengan tuntunan syariat tinggal harapan saja. Propaganda yang
merusak pemikiran muslimah lebih kuat dan lebih canggih
manuver-manuvernya ketimbang para pengemban dakwah dan penyeru kebaikan
yang berupaya memberikan kesadaran kepada mereka untuk berbusana sesuai
dengan syariat Islam.
Seruan mengenakan jilbab harus dilakukan secara intensif dan dengan
beragam pendekatan –di antaranya seperti yang akan dilakukan oleh KPPSI
bekerjasama sejumlah Ormas Islam lain melalui Gerakan Sejuta Jilbab
tanggal 04 Muharram 1427 nanti (hari ini, red)– sehingga jilbab yang
memang diatur oleh syariat Islam, termaktub dalam Alquran dan diimbau
oleh Rasulullah saw lewat Sunnah-Nya tidak ditelan propaganda busana
trendi, busana muslim kontemporer, busana muslim up to date dan istilah
kerudung gaul yang saat ini menghujani pemikiran kaum muslimah terutama
remaja yang di tengah pergumulan masyarakat sekuler. Akhirnya makna
jilbab dirusak oleh para perancang busana dan oleh para pakar fashion,
yang menggantinya dengan kerudung gaul.
Sekarang menjadi problem buat muslimah, apakah dirinya akan
mengenakan kerudung gaul yang sedang trend dan tidak menjadi penghalang
untuk bergaul bebas, tetapi melanggar hukum Allah? Atau hendak
menggunakan jilbab sesuai ketentuan syariat Islam tetapi dengan risiko
terkucilkan dalam pergaulan?
Apa jawaban yang pas dengan pertanyaan di atas adalah bergantung pada
kaum muslimah, apakah menjawabnya dengan akal yang sehat dan perasaan
yang dalam sebagai muslimah sejati, atau dengan hawa nafsu tanpa dengan
perasaan sebagai muslimah?
Sebagai orang beriman, para perempuan muslimah tentu saja mengenakan
jilbab dan kerudung bukan karena melihat para bintang film, artis,
eksekutif, profesional, dan orang-orang yang hari ini dianggap sebagai
panutan di masyarakat. Seorang perempuan muslimah mengenakan kedua
pakaian syar’i itu sebagai refleksi keimanannya kepada Allah swt.
**
Seorang perempuan muslimah ridha dengan satu-satunya pilihan yang diberikan untuk mengenakan pakaian syar’i, (jilbab dan kerudung) pada saat tampil di hadapan publik, baik ia ke pasar, ke sekolah, ke kampus, ke rumah sakit, ke mal, ke sawah, ke pabrik, atau ke mana saja di mana dia mesti melewati jalan-jalan umum dan bertemu dengan khalayak ramai, di mana di sana ada kehidupan pria dan perempuan secara umum.
Seorang perempuan muslimah ridha dengan satu-satunya pilihan yang diberikan untuk mengenakan pakaian syar’i, (jilbab dan kerudung) pada saat tampil di hadapan publik, baik ia ke pasar, ke sekolah, ke kampus, ke rumah sakit, ke mal, ke sawah, ke pabrik, atau ke mana saja di mana dia mesti melewati jalan-jalan umum dan bertemu dengan khalayak ramai, di mana di sana ada kehidupan pria dan perempuan secara umum.
Kerelaan perempuan muslimah dengan keputusan Allah swt sang pembuat
aturan adalah bentuk ketaqwaan dan ketawaduannya pada firman Allah swt
yang artinya “Dan tidaklah patut bagi bagi laki-laki mukmin dan tidak
(pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (QS Al-Ahzab: 36).
**
Tentu dengan dasar keimanan yang kuat itu, perempuan muslimah dengan ringan, mudah, dan penuh keikhlasan bahkan kebanggaan dan perasaan plong bisa melaksanakan perintahnya. Ketika Allah menyeru kaum muslimah untuk menutupkan kain kerudung (khimar) dari atas kepala sampai ke juyub (QS An-Nur: 31) dan menyeru untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya (QS Al-Ahzab:59), maka secara pasti dan tanpa bantahan lagi seorang muslimah harus melaksanakannya.
**
Tentu dengan dasar keimanan yang kuat itu, perempuan muslimah dengan ringan, mudah, dan penuh keikhlasan bahkan kebanggaan dan perasaan plong bisa melaksanakan perintahnya. Ketika Allah menyeru kaum muslimah untuk menutupkan kain kerudung (khimar) dari atas kepala sampai ke juyub (QS An-Nur: 31) dan menyeru untuk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya (QS Al-Ahzab:59), maka secara pasti dan tanpa bantahan lagi seorang muslimah harus melaksanakannya.
Memakai kerudung dan jilbab adalah syariat Allah swt yang harus
dijalankan sebagaimana kewajiban salat, puasa, haji, hudud, muamalah,
dsb. Sebagai pelaksanaan syariat Islam ini harusnya disertai dengan
sanksi-sanksi atas para pelanggarnya karena berangkat dari suatu
keyakinan bahwa penerapan syariat Islam tentang jilbab memiliki tujuan
luhur, yakni menjaga kehormatan perempuan muslimah dan kesucian
masyarakat muslim, tentu tujuan luhur itu sesuai dengan tujuan luhur
secara keseluruhan penerapan syariat Islam yang mewujudkan rahmat bagi
seluruh ummat manusia di alam ini.
**
Berdasarkan QS Al-Ahzab: 59, dapat kita ketahui bahwa hikmah menggunakan jilbab adalah agar lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Pada waktu itu orang-orang fasik berani menggoda para budak perempuan (amah) yang berjalan di malam hari untuk suatu keperluan. Orang fasik tidak berani menggaggu muslimah sebab pelecehan terhadap muslimah akan menerima hukuman besar.
**
Berdasarkan QS Al-Ahzab: 59, dapat kita ketahui bahwa hikmah menggunakan jilbab adalah agar lebih mudah dikenal sehingga tidak diganggu. Pada waktu itu orang-orang fasik berani menggoda para budak perempuan (amah) yang berjalan di malam hari untuk suatu keperluan. Orang fasik tidak berani menggaggu muslimah sebab pelecehan terhadap muslimah akan menerima hukuman besar.
Sejarah mencatat bagaimana tindakan Rasulullah saw terhadap Bani
Qainuqa’ yang melecehkan perempuan muslimah di pasar Yahudi, mereka
diperangi dan diusir dari Madinah. Identitas perempuan muslimah seperti
itu, maka segala gangguan dan pelecehan terhadap mereka pada hakikatnya
adalah pelanggaran terhadap kehormatan kaum muslimin secara keseluruhan.
**
Nyatalah bahwa Islam memandang perempuan sebagai suatu kehormatan yang wajib dijaga dan dipelihara. Islam mensyariatkan pakaian jilbab dan khimar adalah untuk menjaga dan memelihara kehormatan. Nabi saw, bersabda: “Perempuan itu adalah aurat”. Berarti tubuh perempuan itu harus ditutupi sebagai aurat yang merupakan kehormatan baginya, tidak seperti saat ini perempuan dijadikan barang komersial, diobral.
Nyatalah bahwa Islam memandang perempuan sebagai suatu kehormatan yang wajib dijaga dan dipelihara. Islam mensyariatkan pakaian jilbab dan khimar adalah untuk menjaga dan memelihara kehormatan. Nabi saw, bersabda: “Perempuan itu adalah aurat”. Berarti tubuh perempuan itu harus ditutupi sebagai aurat yang merupakan kehormatan baginya, tidak seperti saat ini perempuan dijadikan barang komersial, diobral.
Perempuan yang tidak memakai pakaian syar’i (legal) di depan umum,
yakni jilbab dan kerudung, berarti dia menyia-nyiakan payung hukum
baginya, dan sesungguhnya telah menjatuhkan martabat dan kehormatannya
sendiri. **
0 komentar:
Posting Komentar